Kita hidup di era di mana AI bukan lagi sekadar teknologi di lab kampus, tapi udah jadi “karakter utama” dalam film kehidupan sehari-hari. Dari ChatGPT yang bisa jadi penulis bayangan buat mahasiswa, sampai gambar-gambar ala DALL·E dan Midjourney yang bikin orang debat: “Ini seni asli atau buatan mesin?”
Tahun 2024–2025 bener-bener terasa kayak sekuel baru dalam saga AI – lebih cepat, lebih liar, dan makin penuh drama etika.
Episode Baru: Dari AI ke AGI
Dulu AI cuma pintar di bidang tertentu. Sekarang, dengan pemain baru kayak GPT-4o, Claude 3, dan Gemini 1.5, kita ngomongin soal AGI—Artificial General Intelligence. Bayangin mesin yang bukan cuma bisa ngobrol, tapi juga nulis kode, bikin desain, bikin lagu, bahkan ngerti video. Kayak punya robot serba bisa di satu karakter. AGI belum sepenuhnya lahir, tapi trailernya udah muncul, dan bikin semua orang penasaran: next plot twist apa lagi?
AI & Kreativitas: Pahlawan atau Villain?
Visual dramatis dalam hitungan detik, musik instan tanpa studio, atau poster film level Hollywood dibuat cuma dengan prompt. Keren, kan? Tapi… di balik itu ada konflik klasik: apakah seniman manusia bakal “di-recast”? Siapa yang punya hak cipta kalau karya AI dilatih dari ribuan karya publik? Plot ini jelas bukan sekadar efek spesial – ini konflik hukum dan etika yang nyata, bahkan di Indonesia.

Regulasi: The Rules of the Game
Di Eropa, EU AI Act udah turun kayak “aturan main resmi” pertama untuk AI – mirip rating film berdasarkan risiko. Di tempat lain, platform mulai pasang firewall biar AI nggak dipakai buat deepfake, hoax, atau penipuan. Indonesia? Belum ada undang-undang khusus AI, tapi diskusinya udah mulai—tentang regulasi konten otomatis, privasi, sampai etika di dunia pendidikan. Kampus dan peneliti jelas punya peran penting di sini: ikut menulis “script” untuk versi lokal yang pas dengan konteks kita.
AI di Dunia Pendidikan & Riset: Spin-off yang Menjanjikan
Bayangkan AI jadi co-pilot riset, simulator cuaca, asisten pertanian, sampai guru pribadi yang ngerti gaya belajar tiap mahasiswa. Semua terdengar kayak spin-off yang lebih optimis. Tapi tetap ada catatan penting: jangan lupa etika, transparansi, dan kritis soal bias.
Ending Sementara
AI bukan cuma alat. Dia kayak cermin—memantulkan siapa kita sebagai manusia. Pertanyaan besar bukan “seberapa cerdas mesin yang kita buat,” tapi “seberapa bijak kita menulis skenario hidup dengan AI sebagai co-star.”
Kalau dimainkan dengan benar, AI bukan pengganti manusia, tapi partner yang bisa bikin kita tampil lebih keren di panggung peradaban.



