Apakah Akreditasi Program Studi Masih Relevan di Era Digital?

Share this post

Akreditasi Program Studi sudah lama menjadi fondasi dalam penjaminan mutu pendidikan tinggi di Indonesia. Melalui proses akreditasi, sebuah Program Studi dinilai kelayakannya, kualitas pengajarannya, tata kelola, hingga kesiapan lulusannya untuk bersaing di dunia kerja. Namun kini, ketika dunia pendidikan berubah begitu cepat – dengan hadirnya teknologi kecerdasan buatan, pembelajaran daring, micro-credential, dan kurikulum berbasis OBE – muncul pertanyaan penting: apakah akreditasi Program Studi masih relevan dan diperlukan di era modern saat ini?

Artikel ini membahas secara ringan namun informatif mengenai pentingnya akreditasi, tantangannya, dan bagaimana seharusnya akreditasi bertransformasi untuk tetap relevan di masa depan.


Mengapa Akreditasi Program Studi Masih Penting?

1. Menjamin Standar Nasional Pendidikan Tinggi

Akreditasi berfungsi sebagai alat negara untuk memastikan bahwa seluruh Program Studi memenuhi Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-DIKTI). Melalui proses ini, sebuah Program Studi dinilai kesesuaiannya dengan standar minimal terkait kurikulum OBE, kelayakan dosen, proses pembelajaran, sarana prasarana, dan tata kelola internal. Tanpa mekanisme akreditasi, sulit untuk menjamin bahwa kualitas pendidikan tinggi merata di seluruh Indonesia.

2. Memberikan Kepercayaan Publik

Bagi mahasiswa dan orang tua, akreditasi tetap menjadi indikator awal untuk menilai kualitas suatu Program Studi. Nilai akreditasi sering kali menjadi pembeda antara program studi yang dianggap kredibel dan yang diragukan. Industri dan pemerintah daerah pun masih melihat akreditasi sebagai acuan dalam merekrut lulusan atau menjalin kerja sama.

3. Menjaga Kualitas di Tengah Maraknya Program Studi Baru

Setiap tahun banyak perguruan tinggi membuka Program Studi baru. Tanpa adanya penilaian eksternal melalui akreditasi, akan sulit menjaga keseimbangan mutu antar kampus. Akreditasi berperan sebagai “penjaga” agar tidak ada Program Studi yang berjalan tanpa standar, yang pada akhirnya dapat merugikan mahasiswa.

4. Mendukung Kolaborasi Nasional dan Internasional

Ketika sebuah Program Studi memiliki akreditasi yang baik, peluang kolaborasi semakin terbuka—baik untuk program double degree, pertukaran mahasiswa, hingga penelitian bersama. Banyak institusi luar negeri menjadikan akreditasi sebagai indikator kelayakan awal sebelum membangun kemitraan.


Tantangan Akreditasi di Era Modern

Meskipun penting, akreditasi saat ini mulai menghadapi berbagai kritik dan tantangan, terutama karena perubahan ekosistem pendidikan yang terjadi sangat cepat.

1. Proses yang Masih Terlalu Administratif

Banyak Program Studi mengeluhkan bahwa proses akreditasi masih terlalu fokus pada dokumen. Pada beberapa kasus, penilaian lebih menitikberatkan pada kelengkapan administrasi daripada kualitas nyata di lapangan. Akibatnya, program studi yang sebenarnya memiliki mutu baik namun tidak memiliki tim dokumentasi yang kuat bisa tertinggal.

2. Mutu Dokumen Tidak Selalu Mencerminkan Mutu Nyata

Ada program studi yang dokumennya disusun rapi dalam folder tetapi implementasi SPMI atau pembelajarannya masih bermasalah. Sebaliknya, ada pula yang sebenarnya berkinerja baik tetapi tidak pandai menyusun borang. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas dokumen tidak selalu sejalan dengan kualitas layanan pendidikan.

3. Pendidikan Tinggi Bergerak Lebih Cepat daripada Instrumen Akreditasi

Dunia pendidikan mengalami perubahan signifikan: pembelajaran daring, penggunaan LMS, sertifikat micro-credential, kolaborasi industri, hingga kampus merdeka. Sayangnya, sebagian instrumen akreditasi belum sepenuhnya menangkap dinamika tersebut. Akibatnya, akreditasi berdampak kurang responsif terhadap inovasi-inovasi baru.

4. SPMI Lebih Adaptif dan Real-Time

Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), melalui siklus PPEPP (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan), sebetulnya mampu memonitor mutu secara berkala dalam waktu yang jauh lebih singkat dibanding akreditasi eksternal. Jika SPMI berjalan dengan baik, sebenarnya banyak indikator akreditasi akan terpenuhi secara otomatis.


Apakah Akreditasi Masih Efektif? Analisis Singkat

Efektivitas akreditasi bergantung pada dua aspek: kesinambungan standar dan kualitas implementasi. Jika akreditasi hanya dilihat sebagai “penilaian dokumen” lima tahun sekali, tentu efektivitasnya berkurang. Namun ketika akreditasi diarahkan untuk menilai kinerja nyata (outcomes), efektivitasnya akan meningkat drastis.

Perbandingan dengan beberapa negara juga menunjukkan bahwa tren internasional mulai bergerak ke arah assessment berbasis kinerja, bukan kepatuhan dokumen. Ini menjadi peluang bagi sistem akreditasi di Indonesia untuk melakukan reformasi.


Arah Transformasi Akreditasi yang Ideal

Di era data digital dan pendidikan adaptif, akreditasi harus berubah mengikuti perkembangan. Ada empat transformasi utama yang dianggap paling ideal:

1. Dari Dokumen Menuju Kinerja Nyata

Penilaian akreditasi perlu fokus pada outcome:

  • tingkat kelulusan tepat waktu,
  • keterserapan lulusan di industri,
  • prestasi mahasiswa,
  • publikasi dan inovasi,
  • kepuasan mahasiswa.

Indikator-indikator ini lebih mencerminkan kualitas riil dibandingkan dokumen administratif.

2. Audit SPMI, Bukan Sekadar Folder Dokumen

Jika SPMI “hidup” dan berjalan baik, mutu akan meningkat secara konsisten tanpa harus menunggu siklus 5 tahunan akreditasi. Karena itu, penilaian seharusnya mengutamakan efektivitas SPMI, bukan banyaknya arsip.

3. Integrasi Data Digital Nasional

Indonesia sudah memiliki PDDIKTI, Sister, e-learning, dan sistem tracer study digital. Ketika semua data ini digunakan sebagai sumber penilaian otomatis, proses akreditasi bisa menjadi jauh lebih cepat, objektif, dan efisien.

4. Peran Lembaga Akreditasi sebagai Mitra Pembinaan Mutu

Akreditasi harus bergerak dari model penilaian satu arah menjadi kemitraan dua arah: lembaga akreditasi membantu, membina, dan memberikan masukan peningkatan mutu, bukan sekadar memberikan skor.


Kesimpulan: Akreditasi Masih Penting, Tetapi Perlu Berubah

Pada akhirnya, akreditasi Program Studi masih sangat diperlukan – baik untuk menjaga standar nasional, membangun kepercayaan publik, maupun membuka peluang kolaborasi. Namun relevansinya akan menurun jika tidak mengikuti perkembangan zaman.

Agar tetap efektif, akreditasi perlu bertransformasi menjadi lebih:

  • berbasis data,
  • fokus pada kinerja nyata,
  • mendukung SPMI,
  • dan adaptif terhadap perubahan ekosistem pendidikan tinggi.

Dengan pendekatan baru ini, akreditasi tidak hanya menjadi alat penilaian, tetapi juga motor utama peningkatan mutu Pendidikan Tinggi di Indonesia.


Share this post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *