Infografis perbandingan coding vs problem finding di bidang kesehatan, pertanian, industri

Code Less, Think More – Coding vs Problem Finding

Share this post

Di dunia teknologi, keterampilan coding sering dianggap sebagai “mata uang utama.” Memang benar, tanpa kemampuan menulis kode, aplikasi, sistem, atau perangkat digital tidak akan pernah lahir. Namun, ada keterampilan lain yang jauh lebih penting, langka, dan menentukan keberhasilan teknologi: kemampuan mengidentifikasi masalah yang layak diselesaikan (problem finding).

Mengapa? Karena coding hanyalah alat. Jika sebuah aplikasi atau sistem tidak menjawab masalah nyata, sehebat apa pun algoritmanya, ia akan gagal memberikan dampak. Di sinilah problem finding menjadi kompetensi strategis—baik dalam computer engineering yang berfokus pada perangkat keras, arsitektur, dan sistem tertanam, maupun information technology yang berfokus pada aplikasi, manajemen data, serta integrasi bisnis.

Coding vs Problem Finding: Mana yang Lebih Bernilai?

Coding skill → fokus pada bagaimana membangun solusi: bahasa pemrograman, framework, algoritma, atau arsitektur sistem.

Problem finding skill → fokus pada apa yang perlu dibangun: masalah mana yang benar-benar relevan, siapa yang terdampak, dan solusi seperti apa yang paling berguna.

Seseorang yang hanya jago coding bisa membangun produk canggih, tetapi tanpa memahami konteks masalah, produk tersebut sering tidak terpakai. Sebaliknya, seseorang yang jeli melihat masalah dapat menghadirkan solusi sederhana, tetapi tepat sasaran dan berdampak besar.

Contoh Kasus

Bidang Kesehatan

Sekadar coding: Membuat aplikasi smartwatch untuk memantau detak jantung. Canggih, tetapi mahal, tidak terintegrasi dengan puskesmas, dan akhirnya sulit digunakan masyarakat luas.

Problem finding: Mengamati bahwa pasien di desa sering terlambat mendapatkan perawatan karena tidak menyadari gejala awal. Solusi: sistem SMS/WhatsApp sederhana untuk melaporkan tensi atau gula darah. Data terkirim ke puskesmas, dan dokter mendapat notifikasi jika ada kondisi berbahaya. Murah, sederhana, dan menyelamatkan nyawa.

Bidang Pertanian

Sekadar coding: Aplikasi prediksi cuaca berbasis AI dengan grafik rumit. Bagus secara teknis, tetapi petani kesulitan membaca grafik dan butuh koneksi internet stabil.

Problem finding: Mengamati bahwa petani gagal panen karena salah waktu tanam. Solusi: layanan SMS/voice call yang memberi rekomendasi waktu tanam berdasarkan data BMKG dan pola tanam lokal. Teknologi sederhana, tetapi sangat relevan dan meningkatkan produktivitas.

Bidang Industri

Sekadar coding: Sistem IoT mahal untuk memantau mesin pabrik secara real-time. Cocok untuk perusahaan besar, tetapi UMKM tidak mampu membelinya.

Problem finding: Menemukan bahwa UMKM sering rugi karena mesin berhenti mendadak tanpa perawatan rutin. Solusi: aplikasi mobile sederhana untuk mencatat jadwal perawatan mesin dan mengirim pengingat otomatis ke teknisi. Murah, mudah dipakai, dan menurunkan risiko kerugian.

coding versus problem finding, contoh pada beberapa bidang, bidang kesehatan, bidang pertanian, dan bidang industri

Nilai Sejati Teknologi

Kita memang butuh coding. Tapi coding hanyalah bahasa. Yang lebih penting adalah cerita yang ingin kita sampaikan lewat bahasa itu—yaitu solusi bagi masalah nyata.

Seorang lulusan maupun praktisi TI, baik dari ranah computer engineering maupun information technology, akan lebih bernilai jika mampu:

  • Mengamati kebutuhan pengguna di lapangan.
  • Memahami konteks sosial, ekonomi, dan budaya.
  • Menentukan masalah yang pantas diselesaikan.
  • Baru kemudian memanfaatkan coding dan teknologi untuk mewujudkan solusi.

Dengan begitu, teknologi tidak hanya jadi alat, tapi juga menjadi jawaban atas kebutuhan nyata manusia dan industri.

The most valuable skill in technology today isn’t coding, but identifying problems worth solving


Share this post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *