Transportasi adalah denyut kehidupan sebuah kota. Tanpa sistem transportasi yang baik, alur ekonomi, sosial, hingga budaya akan terganggu. Namun, “dark side” berupa kemacetan, polusi, kecelakaan, dan ketidakmerataan akses masih menjadi musuh utama kota-kota di Indonesia -Jakarta, Surabaya, Bandung, Makassar, hingga Manado.
Harapan baru (A New Hope) lahir ketika sains dan teknologi simulasi digunakan sebagai “lightsaber” untuk melawan masalah ini.
Salah satunya adalah pendekatan System Dynamics (SD), yang memandang transportasi sebagai sistem kompleks penuh interaksi dan umpan balik.
The Force of Dynamics
System Dynamics dikembangkan oleh Jay W. Forrester di MIT. Ia adalah “the Force” yang menghubungkan berbagai elemen dalam sistem transportasi: kendaraan, kapasitas jalan, perilaku pengguna, kebijakan pemerintah, hingga dampak sosial-ekonomi.
Dua alat utamanya:
Causal Loop Diagram (CLD), seperti peta kekuatan Jedi vs. Sith, memperlihatkan hubungan sebab-akibat yang bisa memperkuat atau menahan sistem.
Stock and Flow Diagram (SFD), ibarat jalur energi, menunjukkan bagaimana jumlah kendaraan, kapasitas jalan, pembangunan, dan kerusakan saling mengalir.
Dengan System Dynamics, pemerintah kota dapat “melatih diri sebagai Jedi perencana”, menguji skenario kebijakan sebelum dipraktikkan di dunia nyata.
Empire of Congestion
Mari lihat “kekaisaran kemacetan” yang menguasai kota-kota Indonesia.
Contoh di Jakarta: jumlah kendaraan naik lebih dari 5% per tahun, sementara panjang jalan hampir stagnan. Akibatnya, jalan-jalan dipadati mobil dan motor, masyarakat enggan naik transportasi umum, dan lingkaran setan kemacetan terbentuk.
CLD berikut menggambarkan siklus ini:
Dan SFD memperlihatkan bagaimana “armada kendaraan” terus bertambah sementara “kapasitas jalan” tidak mampu mengimbangi:
Simulasi System Dynamics menunjukkan bahwa menambah jalan hanyalah “senjata sementara”. Seperti membangun Death Star yang akhirnya juga runtuh. Solusi berkelanjutan ada pada memperkuat transportasi umum, mengendalikan kendaraan pribadi, dan mengubah perilaku masyarakat.
Return of the Solution
Namun, saga ini bukan tanpa harapan. Ada solusi yang bisa menjadi “Return of the Jedi” bagi transportasi kota:
Mengumpulkan data real-time lewat smart city, GPS, dan aplikasi transportasi online.
Membangun model modular yang mudah dipahami lalu berkembang ke simulasi kompleks.
Melibatkan masyarakat agar kebijakan—meski sulit, seperti tarif parkir tinggi—dapat diterima.
Kolaborasi pemerintah–universitas dalam penelitian transportasi berbasis SD.
Tantangan seperti keterbatasan data, kompleksitas sistem, atau resistensi publik memang nyata. Tetapi seperti Jedi, dengan strategi yang tepat, kita bisa mengalahkan kekaisaran kemacetan.
The Future Awakens
Ke depan, System Dynamics dapat bersatu dengan kekuatan baru: big data, IoT, dan AI. Bayangkan kota yang mampu memantau lalu lintas real-time, mensimulasikan kebijakan, lalu menyesuaikan regulasi hampir seketika.
Jika langkah ini dijalankan, kota-kota di Indonesia akan bangkit sebagai “New Republic of Mobility”—dengan sistem transportasi yang efisien, ramah lingkungan, dan adil untuk semua warga.
Seperti di Star Wars, pertempuran melawan kemacetan mungkin tidak pernah berakhir sepenuhnya.
Tapi dengan ilmu pengetahuan sebagai the Force, masa depan transportasi kita akan selalu punya harapan.